Masalah? Wah, yang satu ini pasti akan dihindari.
Siapapun pasti tidak ingin mengalami masalah. Saya sepakat sekali. Tapi,
kalau masalah sudah datang, maka jangan lari. Karena masalah tidak akan
pernah terselesaikan dengan cara ini, melainkan akan terus dan terus
datang dan menyapamu “Hai!!”. Maka, satu-satunya jalan terbaik adalah,
menghadapi.
Tentang hal ini saya punya prinsip, “tidak penting
pada apa yang dihadapi, tapi yang penting adalah bagaimana menghadapi”.
Lho kok begitu? Ini penjelasannya.
Orang yang tidak siap dengan pukulan akan terasa
lebih sakit jika dipukul dibanding dengan orang yang sudah siap dengan
pukulan. Kalau kamu memiliki kesadaran bahwa setiap pertemuan pasti ada
perpisahan, setiap yang datang maka ada yang pergi, maka jika kamu
berhenti dari pekerjaan, kamu kehilangan uang atau salah satu dari
keluargamu ada yang meninggal, tentu kamu tidak akan jatuh terpuruk.
Saya ingat seorang teman yang uring-uringan
gara-gara diputus pacarnya. Beberapa hari malas makan. Bawaannya murung
terus. Sebentar-bentar nangis. Bahkan sempat terlontar di mulutnya mau
bunuh diri. Duh, kasihan juga. Tapi ada lagi temanku, yang begitu
diputus pacarnya, sempat nangis sebentar tapi setelah itu dia mengatakan
“Live must go on. Jika dia memutuskan aku, berarti dia bukan yang
terbaik untukku. Saatnya mencari yang terbaik.” Sama-sama diputus, tapi
masing-masing punya pilihan yang berbeda. Yang satu menghadapi dengan
penuh kepanikan. Kalau tidak ada si doi, dunia rasanya mau runtuh. Tapi
yang lain mencoba untuk tetap tenang. Kalau dia nggak mau, ya udah cari
yang lain.
Jadi menurut saya, tidak penting seberapa kecil
atau seberapa besar masalah yang kamu terima, tapi yang penting adalah
bagaimana kesiapanmu dalam menerima. Masalah yang kecil tapi kamu
sendiri mudah panikan, maka masalah itu akan jadi besar. Dan meskipun
masalah itu berat tapi kamu tetap tenang dan arif melihat masalah, maka
masalahnya akan menjadi kecil. Ketakutan, kepanikan, kesedihan,
kemarahan hanya akan membuat masalah semakin membesar. Jadi yang penting
sekarang adalah bagaimana menghadapinya.
Dan satu hal yang perlu kamu sadari tentang
‘masalah’adalah ‘masalah’ sebagai proses pendewasaan diri. Sebagaimana
yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya (judul “Belajar dari
pengalaman”), jika kamu mengalami satu masalah, itu berarti ada yang
tidak beres dengan dirimu. Jangan salahkan orang lain dulu, tapi lakukan
koreksi diri. Lihatlah masalah dari segala sisi, bahkan dari sisi yang
berlawanan yang tidak berpihak padamu. Pelajari itu, maka dengan
sendirinya kamu akan belajar mengatasi sesuatu yang tidak beres di
dirimu. Masalah, jika kamu tahu, adalah proses untuk menjadikan hidupmu
lebih baik. Masalah tidak dicari, tapi ketika datang, sambutlah dengan
senyum. Karena ini artinya kamu akan mendapatkan pembelajaran lagi
tentang hidup.
Nah, berikut ini strategi yang bisa kamu pelajari dan kamu terapkan saat menghadapi masalah. Pertama,
sikap pertama yang perlu ditumbuhkan setiap menghadapi masalah adalah
tenang. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa ketakutan,
kepanikan, kesedihan, kemarahan hanya akan membuat masalah semakin
membesar. Dengan tetap tenang, kamu bisa melihat masalah dengan jernih
dan menyelesaikannya dengan kejernihan pula. Tapi jika sulit, tidak
masalah untuk sesaat kamu lepaskan semua emosi marah, sedih, jengkel dan
lain sebagainya. Tapi kemudian belajarlah untuk tenang. Jangan ambil
keputusan atau jalan keluar apapun saat kamu sedang emosional. Kalau
perlu cobalah ambil jarak dari masalah itu beberapa saat, hingga kamu
benar-benar tenang. Dan setelah keadaan tenang, baru berpikir mencari
jalan keluar.
Dan bagaimana caranya untuk tetap tenang saat
menghadapi masalah? Ini sangat terkait dengan kesadaran yang sudah
terbangun sebelumnya. Di samping butuh latihan-latihan mengolah pikiran
dan perasaan. Suatu saat nanti, saya akan menjelaskan hal ini.
Kedua, saat kamu sudah mulai tenang,
cobalah melihat masalah dari segala sisi. Baik sisi yang menguntungkan
dirimu maupun yang merugikanmu. Coba tempatkan masalah dan dirimu yang
bermasalah tersebut di satu tempat dan kamu yang melihat masalah
tersebut di tempat yang lain. Butuh kejujuran dan keberanian di sini.
Jujur dengan diri sendiri dan berani mengemukakan
kemungkinan-kemungkinan jawaban meski itu akan menyalahkan diri sendiri.
Kalau perlu curhat dengan teman tidak masalah. Dan ketika kamu sudah
menemukan jawabannya, maka belajarlah dari pengalaman tersebut. Jangan
sampai masalah terjadi dua kali.
Jika masalah itu karena kesalahan dirimu, dan kamu
belajar untuk mengatasinya, maka bersyukurlah, karena dirimu semakin
dewasa dan semakin menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi jika kamu tidak
belajar dari pengalaman ini, percayalah suatu saat nanti masalah ini
akan datang kembali kepadamu. Sampai dimana hatimu menjadi beku dan
tertutup, tidak mau berubah.
source : http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/04/mengatasi-masalah-tanpa-masalah/
